Disdik Tinjau Sekolah di Akhir PPDB untuk Lihat Kondisi Lapangan
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) menerapkan pendekatan taktis dalam memantau pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2025.
Kepala Disdikbud Kukar,
Thauhid Afrilian Noor, memilih turun langsung ke sekolah-sekolah pada akhir
masa pendaftaran guna memastikan tidak terjadi pelanggaran teknis maupun
administrasi.
Langkah ini bukan tanpa
alasan. Menurut Thauhid, kunjungan di akhir masa PPDB memberi gambaran kondisi
sebenarnya di lapangan.
Jika dilakukan di awal,
sekolah biasanya sudah dalam kondisi siap, sehingga potensi pelanggaran kerap
tersamarkan.
“Saya sengaja datang di
akhir, bukan di awal, supaya tahu kondisi riil di lapangan. Kalau saya datang
di awal, tidak ketahuan. Makanya saya turun di akhir, supaya bisa dicek betul,”
ujar Thauhid saat diwawancarai, pada Selasa (8/7/2025).
Dalam kunjungannya,
Thauhid menegaskan pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap surat edaran
larangan pungutan di sekolah negeri.
Ia menyebut bahwa
sekolah-sekolah negeri sudah seharusnya menjalankan prinsip pendidikan gratis
tanpa embel-embel biaya tambahan dari orang tua siswa.
Salah satu sekolah yang
menjadi fokus pemantauan adalah SMP Negeri 1 Tenggarong. Sekolah ini sebelumnya
pernah disorot karena adanya laporan pungutan yang memberatkan orang tua siswa.
Thauhid memastikan,
pemantauan di sekolah tersebut dilakukan secara menyeluruh dan objektif.
“Contohnya SMP 1, saya
tinjau lagi karena setahun lalu sempat ada kasus di situ,” ungkapnya.
Thauhid juga meminta
seluruh kepala sekolah dan panitia PPDB untuk menjalankan proses pendaftaran
sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Disdikbud Kukar tidak
segan memberikan teguran jika ditemukan pelanggaran, terutama dalam hal
pungutan atau praktik diskriminatif dalam penerimaan siswa.
Pengawasan ini, kata
Thauhid, merupakan bagian dari upaya menjaga integritas sistem pendidikan di
Kukar. Ia menekankan bahwa semangat reformasi birokrasi di bidang pendidikan
harus dimulai dari proses yang paling awal, yaitu penerimaan siswa baru.
“PPDB
adalah pintu masuk ke dunia pendidikan. Kalau dari awal saja sudah tidak
bersih, bagaimana kita bisa bicara soal mutu dan keadilan?” tutupnya.